Time

We live in time;
We understand ourselves in relation to it,
but in our culture,
time collapses into an ever-present now.

How do we pause when we must know everything instantly?
How do we ruminate when we are constantly expected to respond?
How do we immerse in something (an idea, an emotion, a decision) when we are no longer willing to give ourselves the space to reflect?

_david ulin
LA TImes’ book editor

http://www.latimes.com/entertainment/news/arts/la-ca-reading9-2009aug09,0,4905017.story

Road To Dream Theater Live

Desember 2011 : The Big Announcement
Dream Theater melalui halaman facebooknya mengumumkan bahwa pada April 2012, mereka akan mampir ke Indonesia. Sejak itu saya udah bersorak2 kegirangan karena akhirnya mereka punya jadwal juga kesini, meskipun memang agak sedikit ada yang kurang karena mereka baru datang 2 tahun setelah Mike Portnoy pergi.

Desember 2012 : The Raised Eyebrow.
Setelah melewati fase kegirangan, berikutnya adalah saat yang paling mendebarkan karena tentu saja hal2 detail tentang kedatangan ini yang harus diperjelas lebih jauh, dan dimana tahap awalnya tentu saja adalah, siapa yang bertanggung jawab menggelar show mereka disini. Dan begitu melihat bahwa nama itu adalah Variant Entertainment, dengan website variantmusic.com, saya langsung mengernyitkan dahi. Dengan mudah tentu saja bisa diketahui bahwa domain variantmusic.com baru terregister beberapa bulan lalu, dan itu bukanlah sebuah tanda-tanda yang bagus buat sebuah promotor yang akan mendatangkan band sekelas Dream Theater. Sejak awal memang yang saya prediksikan untuk memanggungkan Dream Theater di Indonesia ini adalah Original Production milik Tommy Pratama yang memang spesialis band-band legenda. Namun ternyata yang muncul adalah nama yang benar-benar baru.

Kejutan kemudian berlanjut ketika diumumkan bahwa tiket hanya bisa dibeli di ticketonfire.com. Seperti sebelumnya, cukuplah mudah untuk melihat bahwa domain ticketonfire.com ini juga belumlah lama didaftarkan. Plus tampilah websitenya yang sangat norak, dan tidak terlihat tanda-tanda ada sebuah engine pemesanan tiket di websitenya. Bahkan website ibudibjo.com atau rajakarcis.com dengan nama “kampung” namun sudah legendaris dalam urusannya dengan pemesanan tiket ini pun jauh lebih keliatan reliable dari nama bombastis kebarat-baratan yang ditunjuk sebagai satu-satunya tempat pembelian tiket Dream Theater ini.

Desember 2011 : The Shocking Price
Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya keluar harga tiketnya. Festival : 1.5juta. Platinum : 4 juta. Gold : 2.5juta. Silver: 1.5juta. dan Tribun: 750ribu. Untuk sebuah promotor tanpa portofolio, dengan tiket box bernama bombastis tanpa pengalaman, ini adalah harga yang sangat tidak masuk akal dan membuat kita para fans Dream Theater ingin datang langsung membakar kantor mereka.

Dari gosip yang beredar, alasan tiketnya harga segitu adalah karena pihak Dream Theater tidak mau disponsori oleh perusahaan rokok, sehinggal semua dana ditaggung oleh promotor. Buat saya gosip itu malah semakin memperkuat alasan bahwa promotornya ini emang masih amatir sehingga tidak bisa cari sponsor.

Ticketonfire kemudian mengumumkan lewat facebook dan website mereka, bahwa mereka akan mengadakan presale, dengan harga tiket dipotong jadi setengah, kecuali tiket tribun. Mekanisme presale ini akan ditentukan kemudian. Sebuah pengumuman yang benar-benar terlihat penuh emosional dan tanpa perencanaan yang jelas.

Dan benar saja, lewat facebooknya, mereka mengumumkan bahwa presale dilakukan dengan cara mengirimkan email ke ticketonfire@yahoo.com. Ticketonfire kemudian akan mereplay email tersebut dengan nomer antrian untuk membeli langsung tiket di tempat yang ditentukan, yang tentu saja berada di Jakarta. Seriously ??

Yang pertama adalah, really ? sebuah email yahoo sebagai email official ? Ini adalah move yang salah dalam berbagi level. Toh jika memang,cara absurd gitu yang akan dipakai, dan dalam sebuah dunia kayalan yang gelap dimana menggunakan email dengan domain sendiri itu adalah pilihan yang sangat tidak masuk akal dan butuh dana trilyunan untuk melaksanakannya, gmail dengan threading interfacenya adalah sebuah pilihan yang jauh jauh lebih masuk akal daripada yahoo dalam kasus yang bakalan jadi heavy traffic seperti ini.

Yang kedua adalah, keliatan banget bahwa agen penjual tiket ini sama sekali tidak berpengalaman soal email, atau lebih jauh lagi, soal order mengorder yang melibatkan antrian virtual. Begitu diumumkan bahwa antrian akan lewat email, yang terbayang adalah sudah jelas, akan butuh banyak sekali energi untuk mensortir email-email yang datang, apalagi tanpa kemampuan threading email seperti gmail. Tinggal dibayangkan saja jika ada yang kirim email, lalu disuruh menunggu tanpa ada konfirmasi sama sekali, apakah emailnya nyampe atau tidak, dimasukkan dalam catatan atau tidak, dan sebagainya. Besoknya, yang mengirim email ini tentu saja akan sangat2 tergoda untuk kirim send email lagi untuk memasktikan bahwa dia benar-benar ikut antrian. Sebagian mungkin malah akan mengirim email lagi 6 jam kemudian. Padahal untuk mensortir email ini tentu saja makan waktu berjam-jam, dan rasanya pihak agen tiket tidaklah mempunyai sebuah kemampuan untuk memanage automatic reply untuk sekedar mengkonfirmasikan bahwa email sudah diterima dan harap sabar menunggu.Tanpa itu, mereka tentu saja akan semakin kerepotan dengan email-email dobelnya.

Alih-alih memberikan konfirmasi, pihak ticketonfire malah menulis status di facebooknya bahwa mereka sedang sibuk begadang dua hari untuk mensortir email-email ini. Ya saya tahu memang ada yang bangga dengan kondisi melekan demi untuk ngerjain sebuah deadline. Tapi, Seriously ? Dalam kasus ini justru mereka semakin memperlihatkan ketidakprofesionalan mereka dalam menghandle sesuatu yang sebegitu serius. Pertama, mereka tidak menyiapkan sistem yang benar dan mengandalkan email, dan bilang bahwa mereka sampe tidak tidur mengerjakannya ? Ini sama saja dengan bilang bahwa mereka cuman tau caranya jalan kaki dan terpaksa harus melekan jalan dari Surabaya ke Jakarta, padahal di sekelilingnya ada kendaraan mulai becak sampe pesawat terbang yang bisa membantu mereka untuk tidak melakukan hal yang konyol seperti itu.

Saya bahkan tidak perlu membandingkannya dengan antrian virtual konser Laruku di rajakarcis.com yang memindahtangankan ribuan tiket dalam hitungan detik sementara butuh 3 hari atau lebih dari pihak ticketonfire HANYA untuk mereplay nomer antrian yang belum tentu dipakai oleh pengitim email. Bagaimana saya tahu kalo itu tidak terpakai ? Karena saya salah satu yang tidak memakai itu. Sudah jelas-jelas saya mencantumkan alamat surabaya, namun tetap saja saya dapat nomer antrian untuk dipakai buat ngantri di jakarta. Dan tebakan saya sih, saya bukan satu-satunya yang melakukan itu.

The Online version of Offline sales
Presale pertama dengan pembelian langsung di Jakarta sudah lewat. Yang berarti tentu saja seharusnya harga akan balik menjadi normal. Tapi ternyata pihak Ticketonfire dan Variant mengumumkan presale berikutnya dengan pembelian online. Mendengar kata online, namun digabungkan dengan pengamatan sebelumnya tentang dua promotor+tiketing ini, saya jadi pengin tau gimana sistem online itu menurut versi mereka. Dan ternyata memang benar, online versi mereka ini tidak lebih sebagai cara offline dengan bantuan email dan rekening bca. Dan yang mengejutkan, mereka tetap menggunakan cara yang sama, yaitu yang berminat silahkan mengirim email untuk antrian. Nanti email itu akan direply, dengan menyebutkan nomer rekening dimana pembeli bisa mentransfer pembayrannya, dan kemudian mengkonfirmasikan lagi lewat email bawah sudah membayar.

WOW ! Saya yang setiap hari hari mengurus traffic lewat email dari sebagian kecil klien saja langsung membayangkan pecahnya kepala dengan sistem seperti itu. Dengan sistem seperti itu, bisa dibayangkan dari satu orang saja, bisa ada 4 konfirmasi email bolak balik. Pemesanan, reply no rek, Konfirmasi pembarayan, reply kuitansi pembayaran. Blum lagi jika ada yang tidak sabaran sampe mengirim bolak balik email2 tersebut. Dan ya, kuitansi pembayaran ini dikirim balik dalam bentuk attachment di email, hasil dari scan2an kuitansi biasa yang ditulis dengan tangan.

Saya pun mengikuti Presale yang kedua ini, dengan mengirim email sesuai prosedur, sampai kemudian mendapat scan2an dari kuitansi pemesanannya. Namun ternyata, keribetan sistem mereka ini ternyata masih bisa saya lihat. Saya yang akhirnya sudah membeli, dengan mengikuti prosedur sampe akhir, masih saja menerima email antrian untuk segera order dengan segala keterangan prosedurnya, tidak cukup sekali, tapi sampai 3 kali.

to be continued

 

 

Sejak a ka

Dream Theater Live at Jakarta

Tanggal 21 April, bareng dengan hari Kartini, Dream Theater akhirnya jadi manggung di Jakarta, dan saya termasuk salah satu dari ribuan orang-orang yang bela2in bolos kerja dan rela terjebak di tengah-tengah kemacetan Jakarta untuk mengejarnya.

Jadwal Show mereka adalah pukul 9 malam, dan karena sudah beberapa kali nonton live music special, plus karena ini adalah bukan di kota saya, dimana tidak ada kegiatan urgent lain yang menghadang, maka jam 4 sore saya udah siap di venue Mata Elang Indoor Stadiun di Ancol. Namun ternyata segala persiapan waktu saya dan ribuan orang lainnya ini jadi terbuang sia-gia gitu saja karena kurang pengalamannya promotor acara.

Pintu masuk stadium baru dibuka sekitar pukul 7 malam, dengan screening ketat, pemeriksaan tiket, pemasangan gelang tanda lokasi masuk ke setiap penonton, dan tentu saja cek tas untuk razia segala macam alat perekam. Sesuatu yang sungguh sangat ambius yang hanya bisa dengan pede dilakukan dalam waktu yang sangat-sangat singkat oleh promotor yang sangat kurang berpengalaman.

Akibatnya, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 8 malem, masih ribuan orang yang mengantri luar stadium untuk menunggu giliran masuk yang dengan waktu yang sangat sangat lambat mengingat adanya berbagai macam prosedur tersebut.

Akhirnya, dari jauh terlihat security dan Polisi berseragam, memutuskan untuk menghilangkan semua prosedur, dan hanya memerikasa tiket saja. Pilihan yang cukup tepat mengingat kondisi darurat yang sangat-sangat terbatas oleh waktu, namun juga memiliki konsekuensinya sendiri.

Tanpa pemasangan gelang tanda dimana penonton seharusnya masuk dan untuk mengontrol dimana penonton ini harus berada di dalam staium, masalah timbul di bagian seating, dimana akhirnya, penonton bisa bebas duduk dimanapun. Yang menderita tentu saja adalah para penonton yang sudah membayar tiket platinum seharga minimal 3 juta. Kabarnya beberapa penonton Platinum ini sampai tidak kebagian tempat duduk karena tempat duduknya sudah ditempati oleh para penonton lain yang membayar dengan harga tiket mulai dari 350 ribu. Namun untung tidak sempat terjadi keributan yang begitu berarti, mengingat juga bahwa benar-benar tidak ada waktu untuk ribut-ribut karena Opening Act sudah tampil, dan Dream Theater akan segera tampil beberapa menit kemudian.

Saya sendiri segera duduk di tempat sesuai dengan tiket pesanan bersama partner in crime pendengar Dream Theater semenjak sekolah dulu kala. Dan begitulah, baru kali ini saya bisa menikmati konser musik dengan berkonsentrasi penuh pada tampilan musisinya dan tidak terganggun oleh capek dan panas dengan adanya tempat duduk senyaman kurang lebih seperti bioskop, lengkap dengan semburan udara sejuk AC nya.

Dream Theter sendiri seperti biasa, tampil dengan prima. Cuman menurut saya sound gitarnya Petrucci terlalu kenceng dan Bassnya Myung sangat sangat perlu untuk dinaikkan lagi volumenya. Vokal Labrie tetep bisa terjaga sepanjang lagu pertama sampai lagi terakhir. Mungkin ini juga gara-gara diera “post portnoy” ini, setlist selalu sama di tiap show sepanjang tahun, sehingga Labrie bisa lebih ngontrol stamina dan suaranya.

Yang luar biasa dari show kali ini adalah lightingnya. Tidak percuma Mata Elang sampai bela-belain bikin stadium indoor sendiri gini dengan tujuan agar setup lighting bisa sedemikian maksimal dibanding dengan kalau harus mensetup lighting baru di tempat-tempat sewaan lain. Kemewahan sound keboard dan iPad Rudess pun benar-benar bisa difasilitasi dengan maksimal oleh lighting prima ini.

Dan tidak terasa, 2 Jam kemudian, kita pun bisa pulang dengan puas dengan kondisi tetep segar, tanpa keringat, tanpa capek. dengan kenangan berkesan..

911 for a Troubled Mind

Once in a while, kita kadang diserang oleh momen dimana segala sesuatu berasa begitu gloomy dan motivasi serta semangat berada pada titik terendahnya, kalo tidak boleh dibilang hilang sama sekali.

Pada saat-saat inilah, our mind butuh pertolongan pertama untuk segera diselamatkan agar momen ini tidak berkepanjangan. Dan sudah menjadi tanggung jawab kita untuk bisa menemukan pertolongan pertama ini, di dalam diri kita sendiri.

Teman dan keluarga, memang adalah elemen penting untuk bisa dilibatkan dalam momen ini, namun tetap saja ini adalah elemen di luar yang membutuhkan waktu untuk mencapainya, seberapapun kecilnya waktu itu.

Beberapa orang memilih,menggunakan, Alkohol, Nikotin, atau elemen sintetis lain. Hal ini mungkin dianggap bisa berjalan pada mereka, dan itu adalah hak mereka untuk tetep menggunakannya. Namun bagi saya, memberikan elemen tambahan untuk membuat our mind menjadi lepas kontrol kehilangan fungsinya adalah cuman sekedar menunda masalah (dan pada beberapa kasus, memberikan masalah yang lain)

Lagipula, dengan bertanggung jawab untuk menemukannya pada diri sendiri, dengan cara-cara kita sendiri, berarti ini adalah salah satu dari sekian banyak aplikasi kita untuk percaya bahwa kekuatan dari Tuhan selalu ada melalui kita.

“Dapur Mini” bernama 7 Eleven

Ketika 7 eleven pertama jadi hip dengan banyaknya mention soalnya di social network, saya jadi semakin tidak mengerti kelakuan orang2 ibukota. Kenapa mereka mau-maunya duduk berlama-lama di mini market semacam indomaret ? Tidak cuman duduk rame-rame, tapi juga dengan bangga menyampaikannya di jaringan social network mereka.

Sampai dengan melihat sendiri 7 eleven dari luar pun saya masih belum bisa mengerti kenapa convenient store ala indomaret gini bisa jadi meeting poin dan tempat nongkrong banyak orang, selain karena memang mereka menyediakan bangku-bangku tempat duduk. Begitu masuk dan melihat sekilas dari pintu masuk pun pertanyaan itu belum terjawab. Sampe kemudian saya mengitari dalamnya.

Ternyata 7 eleven bukanlah convenience store. 7 eleven adalah dapur mini di jaman modern segala segala masakan instan beku yang dilengkapai dengan sebuah microwave untuk memanaskannya, coffee machine dengan macam2 tambahan syrup, dan macam-macam mesin frozen drink berbagai rasa dengan keran putarnya. Yang mereka lakukan adalah, membuat tempat yang memberikan added value nomer satu di jaman modern ini : experience.

Dengan adanya segala macam perlengkapan dapur mini itu, bahkan anak2 kecil pun diperbolehkan untuk memilih dan mengambil gelas dispossable berukuran small, medium, atau lage dari dispenser gelas, menaruhnya di bawah keran putar, dan kemudian memutar sendiri keran penyedia frozen drink bernama slurpee nya dengan berbagai rasa buah tersebut, sesuatu yang bahkan dulu hanya bisa diimpi-impikan untuk bisa dilakukan oleh generasi 80-90an yang sekarang menjadi ortu mereka ketika melihat mesin es krim cone.

Para pengunjung pun bisa memilih berbagai macam rasa kopi yang tinggal dipencet dan kopi akan segera mengucur ke gelas disposable pilihan mereka. Tambahan sirup perasa atau sekedar gula pun sudah tersedia di pinggir macam2 mesin kopi tersebut. Buat yang tidak suka kopi, tersedia macam2 rasa teh celup yang bisa dengan mudah diseduh sendiri.

Untuk makanan, sudah tersedia rak dengan berbagai macam frozen food, mulai dari sandwich ayam sampai dengan nasi karaage. Di sebelah rak ini disediakan microwave dengan instruksi penggunaan yang cukup sederhana dan jelas. Bahkan juga sudah disediakan tatakan karton penahan panas untuk membawa makanan yang sudah pengunjung “masak” sendiri di microwave, untuk dibawa ke kasir untuk dibayar, dan segera bisa dinikmati. Jika tidak puas dengan pilihan frozen food, ada pilihan untuk hotdog dan nasi goreng dengan kemasan karton yang bisa diminta untuk disiapkan di dekat kasir.

Jadi, dengan konfigurasi yang meletakkan dirinya diantara resto siap saji dengan makanan disiapkan oleh petugas counter dan vending machine full automatic tinggal memasukkan uang, maka saya jadi bisa mengerti kenapa banyak orang yang senang hati memilih experience 7 eleven ini, apakah sekedar itu untuk berlama2 nongkrong di tempat dengan makanan minuman yang sudah mereka siapkan sendiri, ataupun sekedar berhenti sebentar untuk nganterin anak membuka keran dan menyiapkan sendiri slurpee pilihan mereka..

Saya juga bisa mengerti kenapa konfigurasi tersebut bakal agak lama bisa diterapkan di kota saya Surabaya yang tercinta ini. Menukar sarapan nasi pecel seharga 5 ribu yang disiapkan oleh ibu2 selama 10 menit dengan quick stop frozen food dimasak di microwave selama 3 menit seharga diatas 10 ribu adalah bukan sebuah pilihan. Kopi satchet seharga 3 ribu yang diberi air panas di dispenser kantor/rumah adalah pilihan yang lebih bisa diterima daripada kopi jadi seharga 15ribu yang keluar dari mesin. Experience adalah bukan pilihan utama di kota saya ini. Harga adalah nomor satu, dan pilihan kedua ada jauh dibawah, dengan experience masi bertarung dengan kesempatan yang sama dengan faktor2 pilihan lain.

Nasehat terbaik adalah yang berasal dari kata-kata sinis namun berpikiran positif.

Nasehat terbaik itu bukan berasal dari orang-orang yang selalu dan hanya bisa berkata-kata dan berpikir positif saja. Tapi tentu saja nasehat terbaik juga bukan berasal dari tipe orang yang berada di ujung satunya, yaitu yang selalu berpikir negatif dan berkata-kata menyakitkan. Nasehat terbaik adalah, nasehat yang berasal dari orang-orang dengan kata-kata sinis, tapi dengan pikiran positif, dan dibawah ini adalah salah satu contoh video dari pemberi nasehat favorit saya :

Hanya Apple yang tau kapan produk barunya akan dimunculkan

Harus brp kali menanggung malu sih, dan belajar kalo hanya Apple yang bisa memastikan kapan dan apa nama produk Apple terbaru akan muncul.

Produk baru Apple biasanya emang muncul dibarengin sama event tahunan Apple (Macworld/WWDC), tapi itu bukan berarti jaminan kepastian.

Kalau untuk software, policynya emang beda. Dan bahkan dalam policy release software ini, hanya Apple sendiri yg akan memberikan kepastian.

Untuk kipas2 rumor, biarin jurnalis lah yang melakukannya. Dan jurnalis yg baik pasti tahu bedanya antara kipas2 dan memberikan kepastian ;)

Dan bagi kita yang “cuman” bisa make atau jual, kan nda perlu juga toh kepancing dengan membelokkan kipas2 itu menjadi kepastian.

{TV Show} The Late Late Show with Craig Ferguson

Sebelumnya, saya tidak terlalu memperhatikan acara2 Late Nite Talk Show di televisi Amerika dan perangnya untuk memperebutkan rating. Yang saya tahu waktu itu cuman The Late Show nya David Letterman dan The Tonite Shownya Jay Leno. Dan meskipun Dave atau Jay memang sosok yang mampu memberikan joke2 ala stand up comedian (Jay Leno sendiri sebelumnya adalah seorang Stand Up Comedian) dengan monologue dan komentar2nya ketika menginterview tamunya, namun saya tidak menemukan alasan untuk meluangkan waktu menonton mereka selain sambil lalu saja.

Sampai kemudian saya sekilas nonton The Late Late Show yang dibawakan oleh Craig Ferguson. Pikir saya pertama kali sih, siapa juga orang ini. Saya pernah dengar Jay Leno, David Letterman, Conan O’Brien, Jon Stewart, Jimmie Kimmel, Carson Daly, atau bahkan yang paling baru, Jimmy Fallon, karena memang Fallon sebelumnya terkenal sebagai aktor dan stand up comedian. Tapi Craig Ferguson ? Meskipun dia memang ternyata sudah jadi host sejak 2005, tapi dengungnya ternyata kok tidak sepopuler nama2 yang disebut di atas itu.

Dari tampilan luarnya memang The Late Late Show miliknya ini berasa sedikit beda. Kalo Show lain set nya berasa hingar bingar penuh warna dan mewah, dengan segala lampu-lampu, property panggung, lengkap dengan band nya segala, The Late Late Show ini kesan pertamanya adalah jauh banget dari itu. Gloomy, Gelap dan sempit.

Penontonya pun sekilas seperti duduk di bangku besi biasa dengan palang besi di depannya, bukan tempat duduk bagus ala show lain. Bahkan keliatannya penontonnya show “Bukan Empat Mata” lebih dapat kursi yang lebih bagus daripada Show yang ini. Namun begitu melihatnya secara utuh, The Late Late Show memang punya hal besar yang spesial, yang justru timbul dari segala hal diluar dari semua kemewahan yang ditonjolkan oleh Talk Show lain.

Dengan tidak adanya setup studio yang mewah, maka semua hal akan berpusat pada sang pembawa acara, dan disinilah kharisma Craig Ferguson benar-benar keliatan. Ini juga yang membuat bahwa The Late Late Show adalah soal Craig dan bukan soal siapa selebritis yang akan diinterview. Uniknya, kharisma ini didapat, justru bukan dengan cara model pemujaan host seperti yang sering dilakukan oleh host yang lain.

Yang dilakukan Craig adalah, dan ini hal pertama yang membuat dia special, membalik semua model pemujaan terhadap host dengan menempatkan dirinya sendiri sebagai orang yang paling pantas dijadikan object penghinaan sepanjang show. Mirip dengan metode Tukul di Empat Mata dalam menghina dirinya sendiri itu sih, namun ini tentu saja dilakukan dengan cara yang jauh lebih cerdas.

Craig “dengan bangga” menyebut dirinya sendiri “creepy white middle age guy on the basement”, “The scottish Conan Guy” (cuman versi scotlandia dari Conan O’brien), “A douche”, menyebut acara sendiri crap karena materi lawakan diulang2, acara yang bahkan CBS sebagai stasiun TV yang menayangkannya tidak mengetahuinya, gak punya dana untuk nyewa band atau sidekick, atau bahkan lampu studio sehingga ruangan terlihat gelap, pernah masang ember di ruangan karena atapnya bocor, kalo pas Natal acara ini gak ada dekorasi apa-apa karena cuman punya duit buat beli pohon natal kecil yang ditaruh di meja, lampu ruangan kadang2 langsung mati, menyebut dirinya sendiri gay disaat pandangan sinis orang terhadap para gay mulai mengganggu, menyebut penonton emang sengaja disuruh tepuk tangan biar rame padahal penontonnya males, menyebut shownya sebagai pilihan terakhir dari orang2 yang aslinya tidak pengin dateng langsung dan melihat dan didatengin cuman karena daripada para penonton itu pulang lagi karena tidak dapet tempat di show The Price is Right, dan seabrak statement dan tingkah yang lainnya yang sama sekali jauh dari pemujaan terhadap dirinya sendiri dan show nya.

Dan hal special nomor dua, itu semua diimbangi dengan perlakuannya dia yang penuh dengan gesture hangat saat menerima guest interviewnya. Di saat host lain cuman memanggil nama selebriti yang jadi tamunya dan duduk menunggu di mejanya (atau paling banter cuman berdiri di mejanya), Craig selalu berdiri dan menjemput guest interviewnya dengan berjalan menuju pintu dan menunggu di sana, tempat guest keluar dari backstage. Ketika guest muncul di pintu, Craig langsung menjabat tangannya, dan memeluknya. Tak lupa cipika cipiki kalo guestnya adalah wanita. Dan ini dilakukan dengan serius dan hangat, tidak cengenges-cengenges seperti tukul. Setelah itu, Craig akan mengiringi Guest, dan mempersilahkannya untuk duduk di sofa disamping mejanya.

Perlakuan hangat seperti itu adalah standard Craig untuk tamu-tamu “normal”nya. Untuk tamu-tamu yang “tidak normal”, dalam hal ini tamu tersebut memang mengenal Craig secara pribadi, gesturenya tentu saja lebih special. Contohnya ketika Ewan McGregor, sesama orang Scotlandnya jadi tamu, yang terjadi adalah, begitu keluar dari pintu, Ewan langsung berlarian keliling stage dengan Craig mengejar-ngejarnya. Gesture sederhana namun penting ini yang membedakan Craig dengan host yang lain.

Berikutnya, setelah guest duduk nyaman, craig kemudian merobek-robek cue card sebagai list pertanyaan dan percakapan yang udah disetup oleh studio, dan membuangnya begitu saja. Bagi Craig, sebuah percakapan yang benar dan tulus adalah percakapan tanpa harus disertai dengan catatan apa-apa saja yang harus dipercakapkan dan ditanyakan. Dan inilah sebenernya inti dari kedatangan para Guest di acara ini, untuk menghadirkan percakapan-percakapan tulus dan santai yang bisa dinikmati dengan santai juga.

Bahkan, meskipun memang para guest ini diundang karena mereka punya karya baru, baik berupa film atau buku (jika guestnya adalah writer), tapi promosi tentang karya barunya itu hanya akan disebut sekilas oleh Craig. Sisanya adalah percakapan antar 2 orang manusia biasa yang mengalir begitu saja tanpa embel-embel macam-macam.

Craig selalu membuka percakapan dengan memuji betapa cantik dan ganteng penampilan guest malem itu, dan percayalah, dengan aksen Scotlandia seperti itu, dan dengan selalu tanpa ragu menghina dirinya sendiri, pujian Craig selalu terdengar tulus dan bukan cuman basa basi seperti yang biasa kita, atau bahkan host lain lakukan. Pujian tulus ini tentu saja membuat suasana jadi cair dan percakapan pun bisa dimulai tanpa beban canggung.

Dengan penyajian oleh Craig dengan suasana “nongkrong sambil ngobrol” gini, maka para guest pun jadi lebih rileks dan percakapan pun jalan dengan obrolan ngalor ngidul sekenanya namun justru benar-benar berasa hangat. Dan sebagai orang yang memiliki sedikit masalah dalam membaur dengan orang, melihat Craig tidak cuman mengontrol percakapan, tapi benar-benar membaur dengan percakapan itu membuat mata saya terbuka dan memberikan contoh langsung kepada saya bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang susah, dan untuk tidak ragu melakukan hal yang sama, membaur dalam percapakan dengan orang-orang.

Di akhir inteview, Craig pun selalu kembali memeluk guestnya, dan siklus kehangatan yang dibangun sejak awal pun menjadi semakin komplit. Show kemudian ditutup dengan Craig bersandar santai, dengan dasi dilepas dan kancing kemeja leher dilonggarkan, dan menyimpulkan, meskipun dengan cara yang ngasal, tentang apa yang bisa dipejari hari ini.

Semua rangkain setup The Late Late Show ini membuat acara menjadi jauh dari membosankan dan benar-benar dinikmati sampe dengan credit title terakhir keluar. Terima kasih juga kepada kebijaksanaan CBS tentang distribusi internet, dimana CBS adalah satu-satunya network TV yang mengijinkan acaranya diposting di internet tanpa melalui network, maka melihat show ini secara utuh adalah hal yang mudah dilakukan lewat youtube. Bahkan, ada beberapa orang yang membuat channel youtube yang khusus hanya menayangkan The Late Late show ini secara utuh.

{Quote} What’s In Your Backpack ?

How much does your life weigh?
Imagine for a second that you’re carrying a backpack.
I want you to feel the straps on your shoulders.
Feel them.
I want you to pack it with all the stuff that you have in your life.

You start with the little things.
Things on shelves, in the drawers, the knickknacks, collectibles.
Feel the weight it all adds up.

Then you start adding larger stuff.
Clothes, tabletop appliances, lamps, linens, your TV.
The backpack should be getting pretty heavy now.

You go bigger.
Your couch, your bed, your kitchen table, stuff it all in there.
Your car, get it in there.
Your home, whether it’s a studio apartment or a two-bedroom house.
I want you to stuff it all into that backpack.

Now try to walk.
It’s kinda hard, isn’t it?
This is what we do to ourselves on a daily basis:
We weigh ourselves down til we can’t even moveand
Make no mistake; moving is living

Now, I’m gonna set that backpack on fire.
What do you wanna take out of it?
Photos?
Photos are for people who can’t remember.
Drink some ginkgo and let the photos burn.

In fact,
let everything burn and imagine waking up tomorrow with nothing.
It’s kinda exhilarating, isn’t it?

This is how I start everyday of my life.
Now this is gonna be a little difficult, so stay with me.
You have a new backpack.
Now this time, I want you to fill it with people

Start with casual acquaintances, friends of friends, folks around the office.
And then you move into the people you trust with your most intimate secrets.
Your cousins, your aunts, your uncles. Your brothers, your sisters, your parents.
And finally your husband, your wife, your boyfriend, your girlfriend.

Get them into that backpack.
Don’t worry I’m not gonna ask you to light it on fire.
Feel the weight of that bag.
Make no mistake,
your relationships are the heaviest components in your life.

Feel the straps cutting into your shoulders.
All those negotiations and arguments and secrets, the compromises.
You need to carry all that weight.
Then you set that bag down.

Some animals were meant to carry each other to live symbiotically for a lifetime.
Star-crossed lovers, monogamous swans.
We are not those animals.
The slower we move, the faster we die.
We are not swans,
We’re sharks.

_Ryan Bingham
Up In The Air