[Review] Kala Wanita Percaya

Normally saya gak nulis review di blog yang ini..
Cuman karena ini peristiwa yang cukup spesial, sebuah penanda pencapain temen baik saya, dimana dia berhasil membuat saya amazed dengan penerbitan buku pertamanya (.. dari serangkain buku2 berikutnya tentu saja..^__^)..
Jadi tentu saja bending the rules untuk hal tersebut sungguh teramat berharga untuk dilakukan..

So, here it is…. 

Perjalanan hidup seseorang menurut saya adalah selalu menarik untuk disimak. Kita cuman bisa menjalani satu versi timeline kehidupan, dan dengan waktu yang berjalan kian cepat, belajar dari hidup yang kita alami sendiri kadang terasa begitu menguras waktu tersebut. Ini sebabnya saya selalu tertarik untuk belajar dari cerita hidup orang lain untuk paling tidak, bisa sedikit menambah dari sedikitnya hal2 yang harus saya alami sendiri.

Di lain pihak, mengungkapkan sebuah cerita hidup sendiri juga bukan merupakan sebuah hal yang mudah, apalagi jika cerita itu sedemikian berlikunya.  Bercerita tentang kehidupan berantakan yang dialami adalah sebuah hal yang berat. Mengeluarkannya dari kepala dan mengubahnya menjadi tulisan adalah perjuangan, dan  menerima reaksi dari pengeluaran itu, bahkan bila itu berupa hal positif seperti dorongan inspiratif, atau sekedar tepuk ringan di pundak, akan terasa begitu menyesakkan dada karena haru dan kadang membuat sumber air dimata tidak dapat menahan daya gravitasi alam.

Buku ini tentu saja bercerita tentang itu semua. Tentang 12 tahun perjuangan Audrey berjuang di tengah konflik keluarganya. Bagaimana Audrey dalam usia belasan tahun menjadi saksi dimulainya konflik ini, harus tetap menjalani masa2 remaja dengan penuh penolakan, berjuang menghadapi kehilangan sang Oma, satu dari dua wanita berpengaruh dalam hidupnya, harus terus menghadapi kerasnya sang Papa dalam segala hal, bahkan dalam satu fase terpenting dalam perkembangan sang anak, yaitu pendidikannya, dan tentu saja saat harus mengikuti roller coaster menyesakkan bersama wanita terdekatnya saat ini, sang Mama.

Audrey menyajikan semua hal itu dengan jalinan sentral dari hubungan 3 wanita beda generasi di keluarganya, Audrey, sang Mama, dan Omanya. Bagaimana perjuangan Oma untuk mendidik dengan cara memberi contoh langsung kepada kedua generasi wanita dibawahnya, sang anak dan cucunya ini untuk tak berhenti berjuang dan percaya, di tengah segala keruwetan yang dipicu oleh sang Papa, dan diwarnai dengan kondisi Oma sendiri yang telah berumur, juga kondisi Mama dengan begitu banyak penyakit dalam yang menderanya.

Namun serangkaian tanda kekuasaan sang Pencipta telah mampu membuat Audrey dan sang Mama tetap bertahan dan terus bangkit, yang pada akhirnya semua itu membuat kehidupan Audrey dan keluarganya semakin membaik. Dan 12 tahun dalam ombang ambing kerasnya kehidupan tentulah menjadi sebuah cerita hidup yang sungguh mampu memberikan banyak pelajaran dan mengangkat motivasi banyak orang yang mau membaca dan mendengarkannya. Audrey juga mampu menyajikan ceritanya dengan sederhana namun tetap bermakna dalam. 140 halaman buku kecil adalah ukuran yang reliable untuk masyarakat di sebuah negara dengan minat baca yang tidak terlalu tinggi. Ukurang tersebut juga sangat memungkinkan untuk dibaca berulang2 sesuai dengan pesannya sebagai sebuah cerita inspiratif bagi pembacanya.

So.
Audrey is my dearest friend…, 
dan oleh sebab itulah fakta bahwa Audrey menulis sebuah buku bernafaskan keTuhanan Kristiani sesuai keyakinannnya tidaklah menghalagi saya untuk beli (yes…, aku beli loh..:P) dan baca bukunya.. 
dan saya begitu bangga dengan temen saya yang satu ini sekaligus ngiri karena dah bisa buat buku sementara saya cuman bisa ngereview doang..^_^
dan saya juga pengen minta maaf dengan tulus kalo saya pernah “berani-beraninya” ngasih nasehat.. 
apa yang saya alami sepanjang hidup tidaklah sampe secuil dari apa yang kamu alami, so how dare me lecturing you ho to live…
keep up the good work and the good live sis, dan buku berikutnya tak tungguin yah..

Saved by The Software

Tadi malem, pas lagi enak2 ngesorting file2 hasil foto2 sepanjang weeekend, ternyata baru nyadar, file2 foto2 yang di roof topnya Tunjungan Plasa dimana yah, kok gak keliatan. Dan mulai deh keringat dingin menetes. File2 itu kan jadi satu paket dengan CF yang ada foto2 lomba di RW yah ? Dan seingat saya, kemaren file2 itu dah didowload bareng dan dimasukin ke folder tandon dulu sebelum disorting, la kok sekarang pada gak keliatan di folder itu ??

File yang di root top TP sih bisa moto lagi, secara gedungnya juga gak akan kemana-mana, tapi file2 lomba bapak2 RW itu yang bikin keringat dingin semakin deras menetes, bisa dikata2in gak enak nih sama orang satu RW.

Jangan2 emang filenya udah kedownload, trus kehapus ini, secara pas ngedownload pagi2 tadi juga buru2, plus CF nya langsung dikosongin lagi (tanpa diformat), buat moto acara lomba paginya. Akhirnya dicoba pake software andalan untuk recover deleted file, Active@ File Recovery. CF dimasukin dan di recover. Dan emang keliatan sih deleted filenya. Tapi.. waduh.., ini kan file2 yang didelete barusan. Yang didelete pagi tadi ternyata dah gak bisa direcover secara mungkin udah ketumpukan sama file yang tadi siang.

Langkah berikutnya adalah ngerecover harddisknya. Setelah dijalanin, dicari di folder Lost & Found tetep gak ketemu. Yang ketemu juga sama, file2 yang barusan di delete, secara sepanjang hari tadi juga sibuk ngesorting dan ngedelete file. Ya wes lah akhirnya pasrah, besok pagi harus nyari panitia lombanya deh..
Read the rest of this entry »

Bertanya pada mesin

Saya akui kalo saya emang bukan people person.

Jadi, berinteraksi dengan orang lain adalah sebuah perjuangan yang benar-benar harus saya lakukan dengan keras, termasuk dalam hal ini adalah bertanya.

Tentu saja buanyaaak banget hal2 yang saya gak tau yang pengen saya tanyakan kepada yang lebih tau. Masalahnya adalah karena hal tersebut bagi saya adalah sebuah perjuangan berat, kadang hasilnya ndak terlalu maksimal. Mangkanya saya seneng banget jika ketemu orang yang merelakan dirinya dan dengan ramah mau melayani rentetan pertanyaan random dan gak jelas dari saya. Untuk beberapa orang second degree (temennya temen) yang ramah, biasa nya malah kadang saya ngasih warning dan permintaan maaf dulu didepan soal kekurang ajaran dalam celotehan pertanyaan saya, demi menjaga hubungan baiknya dengan temen saya.

Penderitaan tentu saja dateng jika orang yang saya pengen tanyain ternyata sama2 bukan people person seperti saya. Yang namanya batu ketemu batu hasilnya tentu saja benturan keras. Namun tetep saja sekeras apapun benturan itu, baginya saya yang penting saya dapet jawabannya, yang lain saya anggep sebagai layaknya harga yang harus saya bayar untuk dapet jawaban itu. Dan layaknya sebuah harga, tentu saja ada yang namanya harga sepadan dan harga sekedapan ^_^.

Tapi untung hal2 ini semakin berkurang saya alami dengan adanya banyak mesin2 tanpa hati yang dijalankan oleh orang2 berhati besar dengan sepenuh hati.

Mesin yang selalu menjadi tujuan pertama untuk memuaskan dahaga bertanya saya sekarang ini adalah sebuah Mesin Pencari. Preference pertama dan yang utama sih pake Mesin Pencari yang bernama Google, cuman sekali2 emang coba yang pake nama Yahoo atau Ask Jeeves. Jadi sekarang, kepala saya jadi sedikit lebih ringan karena apapun pertanyaannya, saya bisa langsung mengungkapkannya tanpa perjuangan yang terlalu berat. Mesin kedua adalah sebuah Mesin Ensiklopedi bernama Wikipedia, sebuah ensiklopedia dengan sejuta macam informasi dan sejuta macam penulis dengan satu tujuan, menyebarkan ilmu pengetahuan.  Bermodal dua mesin ini masalah akhirnya jadi bergeser dari yang kesulitan mencari tempat untuk bertanya menjadi kesulitan untuk memilih mana dulu pertanyaan yang akan diajukan. Pertama saya pikir sih that’s it, gak usah cerita panjang2 karena 2 mesin ini udah cukup untuk merepresntasikan maksud saya dengan bertanya kepada mesin. Namun cerita temen yang lagi mengembangkan dirinya sendiri di sebuah negara Eropa baratmemberi sebuah pencerahan yang mungkin dah usang bagi kebanyakan orang, tapi masi terasa segar bagi saya.

Read the rest of this entry »

Anak-anak dan Orang Dewasa

Buat kebanyakan orang (di kantor atau di tempat2 lain), saya adalah orang yang paling gak peduli dan kemungkinan malah mereka menganggap saya merasa terganggu dengan anak kecil berkeliaran. 

Tapi di lain pihak, ada sebagian kecil dari temen2  dan keluarga saya menganggap saya sebagai hiburan tersendiri bagi anak2 mereka. Hal itu terjadi salah satunya mungkin karena saya adalah “outsider” bagi mereka, saya tidak berinteraksi dengan anak2 ini setiap saat,sehingga saya tidak perlu memposisikan diri menjadi “pengawas” yang dibenci anak2 mereka, terutama jika mereka lagi rewel banget,  sebuah peran yang menurut saya perlu dilakukan orang tua jika keadaan mulai membutuhkan. Karena sebagai outsider itu juga, saya juga bisa dengan enteng ngerestart energi untuk mendengar celotehan2 mereka, hanya dengan pergi dan kembali ke dunia saya, sesuatu yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh orang tua anak2 ini. Dan itu sebabnya saya bener2 kagum pada temen2 dan sodara saya yang dengan rela stay energize demi anak-anaknya. Sesuatu yang sekarang ini mungkin belum bisa sepenuhnya saya bisa bayangkan.

Saya sendiri pada dasarnya memperlakukan mereka kurang lebih sama dengan orang dewasa, dengan beberapa hal spesial tentu saja. Yang utama adalah, saya gak akan membuka diri kepada orang2 yang tidak saya (pengen) kenal, termasuk anak -anak ini. Apalagi jika soal anak, mereka cenderung overreact things. Jika saya terlalu ramah, mereka akan gede kepala dan cenderung akan bersikap kurang ajar terhadap saya, dan itu adalah hal terakhir yang saya inginkan. 

Untuk anak2 ini, saya pertama mendekati mereka dengan penuh kehati2an dan jaga image serta tidak cengengesan. Jika kesan pertama mereka terhadap saya adalah seperti itu, untuk sebagain anak2, kontrol berada ditangan saya. Tentu saja ini semua tidak berlaku terhadap anak2 yang bandel luar biasa. Tapi tentu saja untuk model anak2 macam gini pendekatan saya malah berhenti di say hi aja. 

Saya mendekati mereka dengan cara semacam itu juga agar saya bisa mengobservasi dahulu gimana sebenernya sifat anak2 ini, dengan demikian saya bisa kemudian memutuskan gimana saya harus berinteraksi dengan mereka. Jika anak ini cerdas dan banyak tanya, saya tinggal menimpali dengan pertanyaan2 beruntun agar anak tersebut merasa diperhatikan. Jika anaknya pendiam dan cenderung penurut, saya juga tidak terlalu nyerocos tapi tetep mengajukan2 pertanyaan2 standard dimana anak tersebut merasa nyaman.

Dan yang penting, semua itu harus dilakukan dalam sesi one on one, TIDAK dalam sesi massal.

Menulis

Menulis merupakan hobi yang diisi ayah saya di CV beliau. Well, jangan dibandingin sama penulis2 ngetop yang dah punya kolom sendiri di media secara rutin atau yang pernah nerbitin seenggaknya sebuah buku sih. Namanya juga hobi, jadi sampe sekarang juga lebih banyak hasil tulisannya hanya untuk keperluan pribadi aja. Di rumah ada berjilid2 buku autobiografi ayah mulai jaman kecil sampe dan punya anak yang layak kawin (namun ya kok tetep betah single..^__^) seperti sekarang. Selain autobiografi, juga ada beberapa memoar tebal seperti catatan 30 tahun hasil mengabdinya beliau di kampus IKIP (sekarang UNESA), catatan selama menjadi Ketua Ma’arif Jatim, dan beberapa catatan dalam institusi2 laen yang pernah beliau lalui selama ini. Tulisan-tulisan ini dihasilkan bertahap mulai dari tulisan pake mesin ketik, mulai menggunakan komputer dengan aplikasi Wordstar dan di print di printer dot matrix LX800, sampe dengan pake printer inkjet seperti sekarang. Dan karena semua itu, saya sejak kecil juga sudah mulai “diberi tugas” untuk menulis.

Saat mendidik saya untuk menulis itu, saya gak tau apakah sebenernya Ayah saya telah tahu secara detail manfaat2 yang ada dibalik tugas menulis yang diberikan itu, atau cuman pengen menyalurkan hobinya ke anaknya. Gimana nggak, jaman dahulu tentu saja gak ada yang namanya internet, jadi sumber informasi hanyalah dari buku2 perpustakaan yang tentu saja dengan segala keterbatasannya. Namun memang di dalam segala keterbatasan itu, mungkin aja ada beberapa sumber yang membuat Ayah saya merasa hobinya menulis harus diwariskan. Salah satunya adalah, dalam autobiografinya, saya membaca bahwa Ayah sangat terkesan dengan orang2 Jepang yang sempet beliau temenin waktu studi kasus antar universitas di Surabaya. Orang2 Jepang ini bener2 membuat Ayah saya sadar bahwa betapa hobi menulis beliau ternyata gak ada apa2nya dengan tamu2 ini. Orang2 jepang ini bisa menghabiskan berlembar2 buku catatan untuk menulis apa2 saja yang terjadi hari itu, dan itu bukanlah terutama untuk report mereka, tapi bener2 tentang hal2 kecil yang ada dan mereka lalui sepanjang berada di Surabaya. Mereka menulis tentang mahasiswa2 yang mereka temui disini satu persatu, menulis kegiatan2 apa saja yang mereka lakukan, baik secara sendiri maupun ketika berinteraksi dengan mahasiswa, dan berbagai hal2 kecil lainnya yang tentu saja banyak mereka temui selama di Surabaya. Read the rest of this entry »

What Makes Finnish Kids So Smart?

http://online.wsj.com/public/article/SB120425355065601997-7Bp8YFw7Yy1n9bdKtVyP7KBAcJA_20080330.html

Dapet dari milis temen2 sma.
Tentang bagaimana kondisi belajar di negara yang anak2nya sekolahnya diakui paling pinter sedunia.

Beberapa kutipan menarik ada disini seperti :

High-school students here rarely get more than a half-hour of homework a night. They have no school uniforms, no honor societies, no valedictorians, no tardy bells and no classes for the gifted. There is little standardized testing, few parents agonize over college and kids don’t start school until age 7.

Jadi, plain education, no distraction..
anak-anak dapat konsentrasi belajar tanpa diganggu tetek bengek macem-macem..
Yang menarik juga adalah seakan2 gak ada “paksaan” dan “tekanan” untuk belajar. Umur 7 tahun baru sekolah, gak pake bingung soal preschool, atau taman kanak-kanak segala..

Taking away the competition of getting into the “right schools” allows Finnish children to enjoy a less-pressured childhood. While many U.S. parents worry about enrolling their toddlers in academically oriented preschools, the Finns don’t begin school until age 7, a year later than most U.S. first-graders.

Gak gitu ada tekanan juga direpresentasikan dengan tidak adanya kelas khusus buat yang pinter-pinter, semua diperlakukan sama. Para pendidiknya percaya bahwa mereka akan mendapatkan hasil yang lebih maksimal jika lebih konsentrasi kepada anak2 yang lebih lemah daripada ngepush anak2 yang berbakat untuk menjadi lebih dari yang lain. 

Fanny earns straight A’s, and with no gifted classes she sometimes doodles in her journal while waiting for others to catch up. She often helps lagging classmates. “It’s fun to have time to relax a little in the middle of class,” Fanny says. Finnish educators believe they get better overall results by concentrating on weaker students rather than by pushing gifted students ahead of everyone else. The idea is that bright students can help average ones without harming their own progres

Tapi tentu saja yang utama adalah biaya pendidikannya.

Finnish students have little angstata – or teen angst – about getting into the best university, and no worries about paying for it. College is free. There is competition for college based on academic specialties — medical school, for instance. But even the best universities don’t have the elite status of a Harvard.

Dan sementara itu, kesetaraan pendidikan di sini masi jauh dari ideal :(

http://www.kompas.co.id/kompascetak.php/read/xml/2008/04/26/02080511/ketika.pensil.anak-anak.itu.tidak.bergerak…

8 thing

8 Things that I am passionate about:
1. menerima cerita (lihat, baca, denger)
2. menyebarkan cerita (nulis, desain, kompositing, ngobrol-to selected people-)
2. mencari dan menemukan sesuatu (ironisnya, malah sering kehilangan sesuatu..^_^)
3. reverse history-ing ( seperti reverse engineering, tapi gak berkaitan dengan teknik, lebih kepada pengen tahu gimana dan dari apa sesuatu itu terbentuk/terjadi, secara fisik dan emosional.. )
4. membaca orang
5. membuat snapshot
6. becanda
7. belanja
8. cewek^__^

Eight books I have read recently:
1. Life of Pi - Yann Martel
2. Komik Peradaban Dunia Jilid III - Larry Gonick
3. The Class- Eric Segal
4. iWoz- Steve Wozniak (audiobook)
5. The Disney Way - Bill Capodagli
6. Will the Boat Sink the Water : The Life of China’s Peasants - Chen Guidi
7. The Apple Way - Jeffrey L. Cruikshank
8. ICON : Steve Jobs, The Greatest Second Act in the History of Business -  Jeffrey S. Young and William L. Simon
7.?SUMMERHILL SCHOOL: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan?-?AS?Neil
8.?The Travels of a T-Shirt in the Global Economy: An Economist Examines the Markets, Power, and Politics of World Trade?-?Pietra?Rivoli

8 Songs that I could listen to over and over again:
1. Misunderstood?-?Dream Theater (..dan semua lagu dari DT, dan kalo udah gini 8 tidaklah cukup.. ^__^)
how can i feel abondoned, even when the world surround me
how?can?i?fight?the?hand?that?feed?the?stranger?all?around?me
how can i know so many, never really knowing anyone
if i seems superhuman, i’ve been misunderstood..
2.?Everything - Michael Buble
3. Come Fly With Me - Frank Sinatra
4. Fly Me to The Moon - Frank Sinatra
5. Careless?Wispher - George Michael
6. Dreams - Van Halen
7.?I’ll?be?Over?You?-?Toto
8. After All - Al Jareau

8 Things I say often:
1. Oh God..
2. Loalaah
3. Oh ya ?
4. Oke deh..
5. Maksute… ??
6. Trus, mangsudna apa yah ??
7. La terus.. ??
8. Seng bener aee…

32

.. dan sebanyak itulah jumlah tahun yang telah diberikan oleh Sang Pemberi Hidup kepada saya buat saya lewati..,

..tepat di hari ini.

Ngurus SIM di TP

Pas waktu ada operasi lalu lintas di jalan, seorang polisi yang ngecek SIM saya ngasi tau kalo SIM saya hampir expire dah disuruh segera ngurus perpanjangannya di Tunjungan Plaza (Ya, pak polisi ini bener2 ngasi pemberitahuan dan saran kaya gitu..)

Sebelum ke Tunjungan Plasa, saya cek dulu ke temen dan dia bilang kalo di Royal Plasa, yang lebih deket dengen rumah saya, juga ada counter dari polisi juga. Tapi setelah saya kesana, ternyata yang di Royal ini cuman adalah counternya SAMSAT buat ngurus STNK. Ok, cek.. nanti kalo STNK saya expire saya bisa langsung kesini. Tapi sekarang urusannya adalah SIM dan saya harus ke Tunjungan Plasa (TP) untu ngurus ini.

Akhirnya hari selasa kemaren sehabis jam kerja saya langsung ke TP. Pas jam 7 malem saya nyampe TP dan segera nanya satpamnya dimana tempat buat ngurus perpanjangan SIM. Ternyata tempat ini bernama SIM corner dan terletak di TP I lantai paling bawah, tepat di bawah McDonald deket pintu masuk utama, dan berada disamping ATM center. Dan ternyata, ngurus perpanjangan sekarang bener2 tidak sestress dahulu.

Tempat SIM corner ini bener2 enak dan sejuk, ber AC (ya mana ada tempat di Mall yang gak ber AC), ada tempat untuk nulis dan ngisi formulir dengan ballpoint siap ditempat layaknya bank, dan ada LCD TV gede buat nemenin jika harus nunggu rada lama. Tapi LCD ini rasane lebih dirasakan gunanya oleh petugas yang disana karena proses perpanjangan ini bener2 hanya membutuhkan waktu seberapa cepat kita bisa memahami dan ngisi formulirnya aja.

Prosesnya adalah saya ke counter, bilang kalo saya mau memperpanjang SIM saya. Mbak polisi yang jaga kemudian minta SIM lama dan KTP saya buat difotocopy. Setelah itu langsung ditagih sebesar 85rb per SIM (60 rb biaya SIM, 10rb asuransi, 15rb kesehatan). Sesudah bayar, formulir isian akan diberikan. Kalo formulir udah diisi, langsung aja dibalikin ke mbaknya. Setelah itu langsung diminta foto dan ngecek datanya. Nunggu sebentar dan voila…, SIM baru pun jadi dan siap digunakan.

That’s It, gak ada panas2an, gak ada serobot2an antrian, gak ada proses jalan cepet2 supaya gak diganggu para calo jasa pengurusan, dan yang jelas, proses bisa dilakukan malem hari atau di hari minggu jadi gak ngganggu kesibukan.

Oh, dan satu lagi, entah disengaja atau tidak, gak ada pak polisi kegendutan dengan tampang sok galak yang keliatan nongol disana. Yang ada hanya mbak2 polisi yang cakep-cakep duduk manis dan ngelayanin dengan ramah di counter.. hehehe

2 Screen or More..

Kemaren temen saya ada yang curhat kalo dia tidak mau menghabiskan jam kerjanya di depan komputer terus.. Well, saya bener2 menghargainya, dan saya bener2 salut sama orang2 yang punya semangat untuk berdiri dari kursinya dan keluar dan berinteraksi dengan berbagai macam karakter orang. Dan ini sama sekali tidak diucapkan dengan bahasa sinis, namun tulus dari hati saya. Saya sendiri melakukan ini dengan versi saya melalui pemberian les secara privat ke berbagai macam karakter orang (anak smp, businessman super sibuk, ibu dari 2 anak dengan semangat belajar luar biasa, cewek akunting dengan darah seni yang tinggi, dsb..). Lebih banyak tentang itu di cerita yang laen..

Tapi disaat temen saya tidak pengen menghabiskan waktunya di depan monitor, saya malah kepengen nambah screen di workstation saya yang saat ini ada 2 menjadi 3 atau lebih. Dan ini cerita tentang kenapa-kenapanya.

Read the rest of this entry »