Sholat di Mall dan Tampilan Kesetaraan

Ya, saya tau kalo Mall adalah bukanlah tempat yang ideal untuk mengekspresikan sebuah kereligiusan. Mall adalah pusat kapitalisme, pemborosan, keserakahan, pamer kekayaan, dan segala macam dosa keduniawian yang mungkin direpresentasikan. Tapi ketika waktu sholat tiba, masjidnya adalah sebuah contoh tepat bagaimana sebuah kereligiusan ini ditampilkan dalam kondisinya yang terbaik. Perbedaan status, jabatan, pekerjaan, kekayaan, dan apapun yang bisa ditampilkan dalam kondisi luar manusia, hanyalah sebuah nilai kecil dalam urusannya ketika berhadapan denganNya.

Ketika kita sholat di masjid di kampung, di kompleks perumahan, di pinggir jalan, atau pun di masjid terbesar di kota, perbedaan, secara visual, perbedaan diantara umat mungkin hanyalah sebuah jargon yang sering diteriakkan oleh para penceramah. Yang terlihat adalah lebih kepada keseragaman tampilan. Di majid-masjid ini dress codenya adalah sama. Sarung, baju koko, dan kopiah. Beberapa mungkin mengenakan sorban, atau sebagian lagi menampilkan bagaimana Islam dilihat di negara asalnya, Arab.

Ya, saya juga menyadari bahwa ketika berhaji, keseragaman ini adalah sebuah nilai penting yang harus diterapkan. Apapun status, jabatan, pekerjaan, dan harta yang kita miliki, tampilannya harus kita tinggal di tempat kita berasal, dan dengan kusyu mengunjungi tanah sucinya dengan kesetaraan niat dan posisi, sebagai umat Tuhan. Tapi tentu saja, ketika itu semua sudah selesai dijalani, kita pun harus kembali ke tempat kita berkegiatan, dan melanjutkan kembali tampilan yang semula kita tinggal, dengan penerapan yang lebih baik tentu saja.

Namun ketika waktu harian untuk mengingat kembali atas semua kuasaNya itu tiba, dimanapun kita berada, mengunjungi rumahNya adalah sebuah kewajiban, dengan atau tanpa seragam khas kunjungan ala muslim Indonesia. Dan ketika hal ini terjadi di Mall, seragam khas muslim berupa sarung, baju koko, dan kopiah tersebut sangat kecil sekali kemungkinannya untuk diaplikasikan. Sehingga yang terjadi adalah, display dari berbagai macam perbedaan, namun memiliki satu kesamaan, bahwa apapun yang sekarang mereka tampilkan dalam baju dan celana mereka, mereka sedang menikmati laporan dan reminder rutin mereka terhadap Sang Kuasa.

Seorang pegawai cleaning service, akan terlihat bertakbir bersama disisi seorang eksekutif berdasi. Seorang satpam, akan terlihat berdiri kusyu, dan membaca Al Fatihah yang sama dengan bapak berbaju Arnold Palmer disebelahnya. Seorang anak muda gondrong berkaos hitam, akan terlihat rukuk dengan ritme yang bersamaan dengan seorang anak muda dengan rambut tersisir rapi dengan polo shirt Nike-nya. Seorang staff toko, akan sujud bersamaan dengan mas-mas yang tadi barusan dilayaninya di toko tempat dia bekerja. Plus sekian banyak lagi tindakan kebersamaan yang dilakukan oleh orang-orang yang terlihat begitu berbeda secara visual.

Jadi, pendidikan tentang bagaimana manusia secara religius adalah bukan hanya tentang apa yang mereka tampilkan dalam segala yang melekat di mereka, sesuai dengan batas yang telah diajarkan, tidaklah bisa dilakukan hanya melalui pengulangan jargon. Akanlah sangat kongkret bila pendidikan itu diterapkan, ketika sebuah pemandangan sebenarnya disajikan, tanpa sebuah rekayasa.

God need no human army

If God are The Almighty,
then God definitely need no human army.

Defend your family by God’s name,
not defend God but forget your family’s name.

Hobi

Hobi adalah,
sesuatu yang kadang tidak cukup dilakukan pada waktu luang.
Bahkan kalo perlu, mencuri-curi waktu ditengah kesibukan,
untuk sekedar melakukannya.

People Are Evil

People are evil.
They just need a little push,
either from heaven or hell.

Kekasih

Tuhan, adalah kekasih personal setiap orang yang percaya.
Kita mungkin bertanya kepada orang terdekat bagaimana berperilaku kepada kekasih kita,
tapi kita tidak akan mendengarkan celoteh orang tak dikenal tentang apa yang harus kita perbuat dengan kekasih kita.

Short Sentence vs Long Sentence

Setting default saya sebenernya adalah short sentences. Saya males ngomong. Bahkan kalo ada pertanyaan yang sekedar bisa dijawab dengan anggukan, atau deheman, atau sekedar kata ya atau tidak, saya pasti akan lebih memilih itu. Saya males ngejelasin panjang lebar tentang suatu hal, kepada orang yang bahkan tidak membutuhkannya, apalagi kepada orang-orang yang sama sekali tidak saya respek.

Short sentences itu gampang, dan sekedar respon proporsional aja, supaya saya tidak terlalu terlihat tidak menghiraukan atau menghargai orang. Ini bisa berlaku untuk sesuatu yang bener-bener resmi, urusan kerjaan, atau urusan lain yang membutuhkan sopan santun tingkat tinggi. Tapi kadang juga ini berlaku untuk basa basi, seperti acara spesial seseorang, ulang tahun, naik pangkat, kelahiran bayi, pindah rumah, dan lain lain. Ketika respon proporsional untuk hal-hal seperti itu diperlukan, maka tentu saja short sentences yang menjadi pilihan, dan itu adalah sebuah pilihan yang sangat mudah, bener-bener berdasarkan preferensi pribadi saya secara default.

Tapi,
saya selalu berpikir bahwa teman dekat patut mendapatkan lebih dari sekedar respon proporsional.

Teman dekat adalah orang yang saya bisa ajak ngobrol dengan santai, tanpa beban, dan tanpa harus pasang segala macem topeng sesuai keadaan. Bagi mereka-mereka ini, ungkapan pendek seperti “Happy birthday, wish you for the best”, atau “Congratz for the baby”, atau “Selamat yah, semoga naik pangkatnya dapet berkah”, menurut saya adalah sebuah pengindikasian bahwa temen deket ini cuman “sekedar ada”, tidak tampak sama sekali sebagai orang yang tanpanya kita merasa bakal kehilangan. Dan saya sungguh tidak ingin melakukan itu kepada mereka.

Sebenernya ada hal yang jauh lebih berharga dari sekedar kata-kata. Langsung nongol di depan temen deket ini, give them a big hug, atau sekeda pad in the back. Ga perlu pake kata-kata sama sekali. Dan saya bener-bener ingin melakukan itu kepada semua temen deket saya. Cuman ketika orang-orang ini berada di lain kota, tentunya ini menjadi sebuah hambatan yang tidak gampang ditaklukkan.

Saya ngerti bahwa nyusun kata-kata itu susah, apalagi ketika referensi baca menjadi sebuah kegiatan yang dianggap membosankan bagi banyak orang di sini. Jadi saya juga maklum ketika teman-teman dekat saya menggunakan kata-kata itu kepada saya. Saya tidak menuntut mereka untuk menyusun kata-kata istimewa yang mungkin bagi mereka adalah merupakan beban, dan hal terakhir yang saya inginkan adalah  membebani teman deket saya.

Saya hanya tidak ingin menggunakan kata-kata pendek itu kepada temen deket saya, selain karena alasan-alasan di atas, tapi terlebih lagi, karena saya merasa bisa. Saya merasa bisa memberikan lebih kepada teman-teman deket saya, dan itu bisa saya lakukan tanpa beban. Paling tidak ini bisa sebagai sedikit pengganti karena saya tidak bisa selalu nongol di hadapan mereka.

Jadi, buat temen-temen deket saya, I am really really sorry kalo saya sering menghujani kalian dengan sederetan kata-kata puanjaaang, karena cuman itu yang bisa saya berikan sebagai rasa terima kasih saya telah mau jadi orang yang nemenin saya, tanpa semua senyum, ketawa, dan canda buatan itu.

Wishes for Donna’s New babyborn

Wuaaaaah dah nongol juga akhirnya jagoan barunya…

Jagoan yang bakal bikin mommy cerewetnya ini keabisan kata2 dengan segala kebanggaan yang diberikan..
Jagoan yang bakal bikin kerepotan seluruh keluarga dengan segala bakti dan charmingnya yang tak henti dikeluarkan..
Jagoan yang bakal terus membayangi pikiran om dan tantenya ini dengan segala sayang dan tingkah tak terlupakannya..
dan jagoan yang selalu bikin Sang Pemberi Rahmat tak bisa lepas menurunkan segala rejeki dan barokahnya..

How to (survive) Swim

Benernya ini bukan ngasi tau gimana caranya berenang dengan baik dan benar. Bahkan saya sendiri aja terus terang ga tau gimana caranya itu orang2 kok kepala bisa nongol terus diatas air, di kolam 2 meter ke atas, sambil ngobrol lagi.

Tapi ini cuman soal bertahan aja untuk beberapa waktu di kolam renang, menyeberang dari satu sisi kolam ke sisi lainnya, bahkan ketika panik mulai menyerang. Dan kalo udah ngomong panik di kolam renang, berarti ini bener2 ditujukan buat yang sama sekali ga tau dan ga bisa bayangin gimana caranya bisa mulus, bernafas dengan lancar, dan tau2 udah sampe seberang.

Catatan ini sebenernya juga cuman catatan apa yang saya ingat aja ketika duluuu frustasi belajar renang diajarin orang ga bisa-bisa. Akhirnya setelah dengen keukeuh nyoba2 sendiri, plus berbagai macam eksperimen gaya yang lumayan malu-maluin, akhirnya dapet juga logika dasarnya.

Dan karena ini dicoba-coba sendiri, plus dicocok-cocokin sendiri cara perbikirnya, saya percaya ini bukan cara yang tepat untuk semua orang, apalagi sampe dijadikan acuan, bisa timbul banyak korban nanti kalo gitu caranya.

Okeh, dan inilah step by step ngawur cara berenang ala saya :

  1. Lupakan itu kaki
    Yang bikin saya frustasi ketika saya diajarin renang oleh temen2 saya adalah, teriakan-teriakan mereka tentang kordinasi kaki dan tangan. Ketika kaki menjejak, tangan harus dalam posisi gini, ketika tangan mengayuh, kaki harus mengatup, salah itu mengatupnya, ini kok kaya kodok beneran yah gayanya, timingnya kaki dan tangan salah tuh, itu kaki gaya bebas, bukan untuk gaya dada.

    You know what, STOP IT !
    Kepala saya terlalu pusing untuk mikirin gimana caranya menggerakan kaki yang benar, sampe saya jadi lupa gimana caranya dan timingnya mengambil nafas. Yang perlu diketahui saat pertama kali berada di air adalah bukan soal mensinkronkan gerakan kaki dan tangan, tapi soal gimana caranya mengambil nafas. Gimana mo mikirin soal sinkronisasi kalo saya selalu panik kehabisan nafas.

    Jadi, bagi saya, untuk sementara, lupakan dulu itu gerakan kaki. Jangan mikirin soal kaki deh. Mo itu kaki menjejak, mo kaki kecipak-kecipak naik turun, atau mo diem aja, terserah. Masi inget dulu pas kecil ada yang ngajarin supaya tangan kita megang tepi kolam dan kita tengkurap sambil kaki berkecipak-kecipak ? Useless. Ketika panik kehabisan nafas menyerang, kita akan tenggelam kalo masi mikirin soal kaki. Lebih baik tenang, dan mengambil momen menarik nafas.

    Jejakan dan kecipak kaki memang membantu untuk melaju, atau sekedar membuat kepala tetep berada diatas dalam posisi tubuh vertikal.  Tapi untuk saat pertama ini, boro2 mikirin kepala steady di atas, wong ini badan bolak-balik maunya menuju ke dasar kolam aja rasanya. Lagipula, untuk kemampuan melaju, kayuhan tangan masi menjadi kekuatan utama. Kayuhan tangan inilah juga yang bisa mendorong kepala kita terangkat ke atas air untuk mengambil nafas. Dan inilah yang harus dilatih pada saat pertama kali menceburkan diri ke kolam renang. Bagaimana saat yang tepat untuk memutuskan menggunakan kayuhan tangan itu untuk menaikkan kepala ke atas air.

  2. Bernafas, bernafas, bernafas.
    Yap. Inti daripada menceburkan diri ke air adalah, gimana mengambil momen untuk menarik nafas. Dan sekali lagi, bukan soal mensinkronkan gerakan kaki dan tangan. Jangan kuatir soal itu, secara alami itu akan terjadi. Masi ingat guyonan cara berjalan ala robot toh ? Dimana ketika tangan kanan maju, kaki kanan juga yang maju. Secara alami kita tidak melakukan itu. Dan dengan alasan yang sama pula, nantinya sinkronisasi gerakan kaki dan tangan akan terjadi, secara alami dan dengan sendirinya.

    Jadi, balik lagi ke mengambil nafas. Seperti disebut di atas mengambil nafas dilakukan dengan kayuhan tangan yang mendorong kepala ke atas permukaan air, dan kepala berada sekian detik disana untuk mengambil nafas. Nafas kemudian dibuang di dalam air. Ketika nafas habis, tangan mengayuh lagi untuk mengangkat kepala ke atas untuk mengambil nafas. Begitu seterusnya, in theory.

    Masalahnya adalah, selain digunakan untuk mengangkat kepala, kayuhan tangan ini juga digunakan untuk melaju di air. Jadi, apa yang perlu dikuatirkan pertama kali dalam menceburkan diri air, adalah gimana mengatur ritme antara mengayuh untuk melaju, dan mengayuh untuk mengangkat kepala, THATS IT !

    Belajarlah untuk menemukan ritme itu, sesuai dengan preferensi pribadi. Ketika itu udah ketemu, mo langsung nyebur di kolam dalam tanpa tau giman caranya mensinkronkan kaki dengan tangan pun no problem. Dan berapa lama sih rata2 waktu yang diperlukan untuk menemukan ritme itu ? Paling ga sampe 2 jam juga dah ketemu ritmenya. Dengan satu syarat. Jangan mikirin kaki !

Protected: Definitive Love

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Protected: Married is You

This post is password protected. To view it please enter your password below: